Penderitaan yang membawa kemenangan
Aku telah memerhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan aku telah mendengar seruan mereka (Keluaran 3:7).
Sahabat, Allah tahu tiap langkah hidup kita. Ia tahu manakala kesedihan, derita dan kesendirian menimpa kita. Ia tahu ketika kita malu, hancur, tak mampu melangkah lagi. Ia adalah kasih abadi – kasih yang sama kemarin, hari ini, selamanya. Betapa pun hancurnya kita, betapa kelirunya langkah kita bukanlah masalah bagiNya. Kegagalan kita tak mengubah karakterNya. Sungguh, kita bukanlah ditolakNya. Jika kita sungguh hati ingin memilikiNya, Ia bersedia menjadi Gembala kita. Allah tidak memaksa domba-dombaNya, melainkan membimbing mereka dengan lemah lembut.
Allah Bapa kita mengerti iman yang redup kepada tekanan. Ia memperhitungkan alasan kegagalan kita. Ia merasakan malapetaka kita. Yesus tahu derita kita lebih dari yang lain. Ia merasakan yang kita rasakan. Rintihan kita sampai di telingaNya. Ia mendengar tangis kecewa kita. Ketika bangsa Israel menderita, Allah tahu seperti kataNya pada Musa, “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.” (Keluaran 3:7). Ketika Allah mendengar jeritan mereka, Ia tak berdiam diri. Ia bereraksi seperti kataNya, “Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya…” (Keluaran 3:8.)
Sebagaimana Allah membebaskan Israel, Ia pun akan membebaskan kita ketika tak seorang pun peduli. Ketika kita melewati jalan yang salah, dengan lembut Ia membimbing kita. Allah berkata “…mereka berjalan dari gunung ke bukit sehingga lupa akan tempat pembaringannya. tetapi Aku akan mengembalikan Israel ke pada rumputnya,....." (Yeremia 50:6d, 19a). Kita mudah melupakan Allah, “tempat pembaringan” kita, dan berkelana. Tetapi Ia menyertai ke mana pun kita pergi.
PenyertaanNya bukan karena kita baik, melainkan karena kasihNya yang abadi.
Bacaan renungan: Keluaran 3:3-7 (TB)
3 Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?"
4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah."
5 Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."
6 Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.
7 Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.
NATS: Aku telah memerhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan aku telah mendengar seruan mereka (Keluaran 3:7)
TERLUKA DAN MENDENGAR
Saat kita mengalami dukacita yang dalam atau situasi yang sulit, kita barangkali merasa tersinggung apabila seseorang mengatakan bahwa sesuatu yang baik dapat muncul dari kesukaran kita. Seseorang bermaksud baik yang mencoba untuk mendorong kita untuk memercayai janji-janji Allah, dapat dianggap sebagai orang yang tidak memiliki perasaan atau bahkan tidak realistis.
Hal itu terjadi terhadap bangsa Israel, yaitu ketika Allah sedang mengusahakan pembebasan mereka dari tanah Mesir. Firaun mengeraskan hatinya terhadap perintah Allah untuk membiarkan umat-Nya pergi, dan ia memperberat beban kerja budak-budak Ibrani dengan memaksa mereka mengumpulkan jerami yang diperlukan untuk membuat batu bata (Keluaran 5:10,11). Mereka menjadi begitu patah semangat, sehingga tidak dapat menerima jaminan Musa bahwa Allah telah mendengar seruan mereka dan berjanji untuk membawa mereka ke tanah milik mereka sendiri (6:8).
Kadang-kadang luka dan ketakutan yang kita alami dapat menutup telinga kita terhadap kata-kata Allah yang penuh dengan pengharapan. Akan tetapi, Tuhan ternyata tidak berhenti berbicara kepada kita pada saat kita mengalami kesulitan untuk mendengarkan. Dia justru akan terus-menerus berusaha demi kepentingan kita. Hal itu terjadi sama seperti ketika Dia membebaskan umat-Nya dari tanah Mesir.
Pada saat kita mengalami belas kasihan Allah dan kepedulian-Nya, maka kita akan dapat mendengar suara-Nya kembali, sekalipun luka itu belum sembuh —DCM
**************************************************
BAHKAN SAAT KITA TIDAK MERASAKAN KEHADIRAN ALLAH, KASIH-NYA BERADA DI SEKELILING KITA
**************************************************
(Tonci Babys)
Komentar
Posting Komentar